Belajar Menerima Diri Sendiri Lewat Kebiasaan Menulis
Halo, teman-teman pembaca Teh Iis Blog!
Kali ini Saya mau berbagi sesuatu yang lebih personal — soal proses menerima diri sendiri, dan bagaimana kebiasaan menulis bisa jadi salah satu cara sederhana untuk membantu proses itu.
1. Menerima Diri Bukan Berarti Berhenti Berkembang
Salah satu kesalahpahaman umum soal menerima diri sendiri adalah menganggapnya sebagai bentuk menyerah atau puas dengan kondisi apa adanya. Padahal, menerima diri justru sering jadi fondasi yang membuat perubahan terasa lebih tulus — bukan dari rasa benci ke diri sendiri, tapi dari rasa ingin bertumbuh.
2. Menulis sebagai Ruang Aman untuk Jujur
Menulis, entah di buku catatan atau sekadar catatan di ponsel, memberi ruang untuk jujur ke diri sendiri tanpa takut dihakimi. Tidak perlu rapi atau terstruktur — yang penting adalah kejujuran dalam menuangkan apa yang sedang dirasakan atau dipikirkan.
3. Beberapa Pertanyaan Sederhana untuk Memulai
Kalau bingung mau mulai dari mana, beberapa pertanyaan ini bisa jadi pemantik:
- Apa yang membuat saya bangga pada diri saya hari ini, sekecil apa pun?
- Hal apa yang selama ini saya kritik dari diri sendiri, dan apakah kritik itu benar-benar adil?
- Kalau saya berbicara ke diri saya seperti berbicara ke sahabat, apa yang akan saya katakan?
4. Tidak Perlu Setiap Hari, yang Penting Konsisten
Menulis reflektif tidak harus jadi rutinitas harian yang kaku. Beberapa kali seminggu, atau bahkan hanya saat sedang butuh, sudah cukup — yang penting adalah menjadikannya kebiasaan yang bisa terus dikembalikan, bukan target yang malah jadi beban baru.
Penutup dari Saya
Menerima diri sendiri itu proses panjang, dan menulis hanyalah salah satu cara kecil untuk membantu perjalanan itu. Semoga tulisan ini bermanfaat, dan semoga kita semua terus belajar untuk lebih baik ke diri sendiri.
— Teh Iis
Post a Comment