Memimpin Tim Multi Disiplin
Halo lagi, teman-teman pembaca Teh Iis Blog!
Melanjutkan seri tentang project management, kali ini Saya mau bahas satu hal yang sering dianggap "soft skill" saja, padahal dampaknya sangat nyata: cara memimpin tim yang isinya orang-orang dari berbagai latar belakang keahlian. Di artikel pertama seri ini, Saya sempat singgung soal "Baik: Memimpin dengan Empati" nah, ini versi lengkapnya.
1. Kenapa Tim Multidisiplin Itu Menantang
Dalam proyek infrastruktur, biasanya ada banyak kepala bagian dari disiplin berbeda teknis, perencanaan, dokumentasi, hingga pihak eksternal yang harus bekerja selaras menuju satu tujuan. Masing-masing punya cara berpikir, prioritas, bahkan istilah teknis yang berbeda. Tanpa kepemimpinan yang tepat, ini gampang jadi silo: masing-masing bagian jalan sendiri-sendiri.
Menurut PMI dalam PMBOK® Guide edisi ke-7, salah satu prinsip intinya adalah membangun lingkungan tim yang kolaboratif bukan sekadar mengumpulkan orang pintar di satu ruangan, tapi memastikan mereka benar-benar bekerja sebagai satu kesatuan.
2. Bahasa Bersama, Bukan Bahasa Teknis Semua Orang
Dari pengalaman Saya, salah satu tugas penting seorang pemimpin proyek adalah menjadi "penerjemah" memastikan setiap kepala bagian memahami dampak keputusan mereka terhadap bagian lain, tanpa harus menguasai detail teknis masing-masing. Caranya:
- Buat forum rutin di mana semua kepala bagian melaporkan progres dengan bahasa yang bisa dipahami lintas disiplin, bukan jargon internal.
- Saat ada keputusan besar, jelaskan dampaknya ke setiap bagian secara eksplisit jangan asumsikan semua orang otomatis paham.
- Dorong anggota tim untuk bertanya kalau ada istilah atau keputusan yang tidak jelas, tanpa takut dianggap tidak kompeten.
3. Mendengarkan Sebelum Memutuskan
Ini yang sering Saya tekankan: keputusan yang baik jarang lahir dari sudut pandang satu orang saja. Sebelum mengambil keputusan penting, luangkan waktu mendengar masukan dari mereka yang bekerja langsung di lapangan mereka sering melihat hal-hal yang tidak terlihat dari meja kerja.
Ini bukan berarti semua keputusan harus konsensus. Sebagai pemimpin, keputusan akhir tetap di tangan Anda tapi keputusan itu akan jauh lebih kuat kalau sudah mempertimbangkan sudut pandang yang beragam.
4. Akuntabilitas Dua Arah
Memimpin dengan empati bukan berarti lembek soal standar. Justru, tim yang sehat butuh akuntabilitas dua arah:
- Pemimpin bertanggung jawab menyediakan arahan yang jelas, sumber daya yang cukup, dan lingkungan yang aman untuk bicara jujur.
- Anggota tim bertanggung jawab memenuhi komitmen mereka, dan mengomunikasikan kendala sedini mungkin bukan di menit-menit terakhir.
Kalau ada kesalahan di level pengelolaan proyek, akui itu secara terbuka. Jangan cuma menyalahkan pelaksana di lapangan itu justru merusak kepercayaan tim dalam jangka panjang.
Penutup dari Saya
Memimpin tim multidisiplin itu bukan soal jadi ahli di semua bidang, tapi soal menciptakan ruang di mana semua keahlian itu bisa saling melengkapi. Semoga tulisan ini melengkapi seri project management di blog ini kalau kamu belum baca, ada juga tulisan tentang tips project management dari pengalaman di lapangan dan manajemen risiko proyek.
Teh Iis
Post a Comment